Friday, February 3, 2012

TRAUMA TUMPUL PADA MATA


Oleh Fahry Hamka & Rizka Hanifah

Mata sering mendapat trauma dari luar karena merupakan organ yang langsung berhubungan dengan lingkungan luar, tetapi mata mempunyai sistem pelindung yang cukup baik seperti rongga orbita, kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar, reflex memejam dan mengedip. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata dan kelopak, saraf mata, dan rongga orbita. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan atau memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan. Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan kebutaan.
Pada trauma mata, dapat terjadi dalam bentuk-bentuk berikut:
  1. Trauma tumpul
  2. Trauma tembus bola mata
  3. Trauma kimia
  4. Trauma radiasi
Trauma pada matadapat mengenai jaringan di bawah ini secara terpisah atau menjadi sebuah gabungan trauma jaringan mata. Trauma dapat mengenai jaringan mata seperti kelopak mata, konjungtiva, kornea, uveitis, lensa, retina, papil saraf optic, dan orbita
2. 1.     Trauma Tumpul
2.1.1.   Trauma pada Kelopak Mata

Trauma yang melibatkan kelopak mata dan daerah periorbital biasanya disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tembus pada wajah. Trauma ini dapat menyebabkan kerusakan mulai dari hematom, abrasi kulit ringan, hingga kasus kompleks seperti kehilangan sebagian besar jaringan dan fraktur pada tulang kranial.
  1. Hematoma Palpebra
Hematoma palpebra merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak akibat pecahnya pembuluh darah palpebra. Hematoma palpebra merupakan kelainan yang sering terlihat pada trauma tumpul kelopak mata. Trauma dapat akibat pukulan tinju atau benda-benda keras lainnya. Hematoma adalah kelainan yang sering ditemukan pada trauma tumpul kelopak atau dahi, yang secara garis besar tidak berbahaya, namun harus dilakukan pemeriksaan pada bola mata karena bola mata juga dapat terjadi kerusakan.3,4
Bila pendarahan terletak lebih dalam dan mengenai kedua kelopak dan berbentuk kaca mata hitam yang sedang dipakai, maka keadaan ini disebut sebagai hematoma kaca mata. Hematoma kaca mata  merupakan keadaan gawat. Hematoma kaca mata terjadi akibat pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda fraktur basis kranii. Pada pecahnya arteri oftalmika maka darah masuk ke dalam kedua rongga orbita melalui fisura orbita. Akibatnya darah tidak dapat menjalar lanjut karena dibatasi septum orbita kelopak mata. Kelopak mata akan berbentuk gambaran pada kelopak seperti seseorang yang memakai kaca mata.
Pada hematoma palpebra yang dini dapat diberikan kompres dingin untuk menghentikan perdarahan dan menghilangkan rasa sakit. Bila telah lama, untuk memudahkan absorpsi darah dapat dilakukan kompres hangat pada palpebra.3

  1. Abrasi dan Laserasi Kelopak Mata
Adanya defek kelopak mata harus dilakukan penutupan langsung jika memungkinkan, karena hal ini dapat memberikan hasil fungsional dan kosmetik yang paling baik.4 Penatalaksanaan luka pada kelopak mata harus dibersihkan dengan normal saline, diberikan antibiotik, dan tutup steril. Jika ada jaringan yang terlepas segera di bersihkan. Pada kelopak mata memiliki vaskularisasi sangat baik sehingga nekrosis iskemik jarang terjadi.1

2.1.2.   Trauma Tumpul pada Konjungtiva
1.      Edema Konjungtiva
Jaringan konjungtiva yang bersifat selaput lendir dapat menjadi kemotik akibat trauma tumpul. Bila kelopak terpajan ke dunia luar dan konjungtiva secara langsung kena angin tanpa dapat mengedip, maka keadaan ini telah dapat mengakibatkan edema pada konjungtiva. Kemotik konjungtiva yang berat dapat mengakibatkan palpebra tidak menutup sehingga bertambah rangsangan terhadap konjungtiva.
Kemosis berat pada konjungtiva dapat mengakibatkan palpebral tidak dapat menutup sehingga menambah rangsangan pada konjungtiva dan memperberat kemosis. Pada edema konjungtiva dapat diberikan dekongestan untuk mencegah pembendungan cairan di dalam selaput lendir konjungtiva. Pada kemotik konjungtiva berat dapat dilakukan insisi sehingga cairan konjungtiva kemotik keluar melalui insisi tersebut.3
2.      Hematoma Subkonjungtiva
Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada / atau di bawah konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera. Perdarahan superfisial dapat tampak mengkhawatirkan tetapi sebenarnya tidak berarti banyak. Perdarahan ini dapat sembuh tanpa diterapi. Area yang merah dapat menjadi agak hijau dan lalu menjadi kuning dalam beberapa hari. Jejak perdarahan biasanya hilang dalam satu atau dua minggu.
Pastikan tidak ada robekan dibawah jaringan konjungtiva atau sclera bila hematoma ini akibat dari trauma tumpul. Pemeriksaan funduskopi diperlukan pada pasien dengan perdarahan subkonjungtiva. Bila perdarahan subkonjungtiva diikuti dengan tekanan bola mata rendah, disertai dengan pupil yang lonjong, dengan tajam penglihatan yang menurun, maka lakukan eksplorasi lebih lanjut karena ditakutkan adanya rupture bulbus okuli. Pasien dengan perdarahan subkonjungtiva dapat dilakukan kompres hangat. Perdarahan  ini akan hilang dalam 1-2 minggu tanpa diobati, karena diabsorpsi kembali.3
2.1.3.   Trauma Tumpul pada Kornea
  1. Edema Kornea
Trauma tumpul yang keras atau cepat mengenai mata dapat mengakibatkan edema kornea, bahkan hingga ruptur basement Descement. Edema kornea akan memberikan keluhan penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi di sekitar bola lampu atau sumber cahaya yang dilihat. Kornea akan terlihat keruh, dengan uji plasido yang positif.
Edema kornea akut terjadi akibat disfungsi endotel kornea local atau difus. Biasanya terkait dengan pelipatan pada membran Descemet dan penebalan stroma. Rupturnya membran Descemet biasanya terjadi vertikal dan paling sering terjadi akibat trauma kelahiran. Pasien akan mengeluhkan penglihatannya yang kabur dan terlihat pelangi di sekitar lampu. Kornea akan terlihat keruh dengan uji plasido positif.4
Edema kornea berat dapat mengakibatkan masuknya sel radang dan neovaskularisasi ke dalam stroma kornea. Pengobatan yang diberikan adalah larutan hipertonik seperti NaCl 5% atau larutan garam hipertonik 2 – 8%, glukose 40%, dan larutan albumin. Bila terdapat peninggian tekanan bola mata maka diberikan asetazolamid
Komplikasi dari edema kornea berat adalah kerusakan membran Descemet yang lama dan mengakibatkan keratopati bulosa yang akan memberikan rasa sakit dan penurunan tajam penglihatan aibat astigmatisme iregular.3

  1. Erosi dan Abrasi Kornea
Erosi kornea karena keadaan dimana epitel kornea terkelupas. Hal ini dapat diakibatkan oleh gesekan keras pada epitel kornea. Dalam waktu cepat, epitel sekitarnya akan  bermigrasi dan menutupi defek epitel tersebut.
Pasien akan merasa sakit sekali karena erosi merusak kornea yang memiliki banyak serat sensible, mata yang berair, blefarospasme, fotofobia, dan penglihatan yang terganggu akibat kornea keruh. Apabila erosi terdapat didepan area pupil, pasien akan mengeluh penurunan tajam penglihatan yang buruk. Pada pemeriksaan fluorescein, akan tampak defek epitel kornea yang berwarna hijau. Perlu diperhatikan infeksi yang timbul kemudian akibat erosi kornea. Epitel yang terkelupas pada erosi kornea sebaiknya jangan dilepas.3,4
Untuk mencegah infeksi bakteri diberikan antibiotik seperti antibiotik spektrum luas seperti neosporin, chloramfenikol, dan sulfasetamik tetes mata. Aibat rangsangan yang mengakibatkan spasme siliar maka diberikan sikloplegik aksi pendek seperti tropikamida. Pasien akan merasa lebih nyamam jika mata dibebat tekan (patch) selama 24 jam. Erosi yang kecil biasanya akan tertutup kembali setelah 48 jam.3

2.1.4.   Trauma Tumpul pada Uvea
  1. Iridoplegia
Trauma tumpul pada uvea dapat mengakibatkan kelumpuhan otot sfingter pupil (iridoplegia) sehingga pupil menjadi lebar.3
Kerusakan pada sfingter pupil dapat menyebabkan midriasis traumatik, yang dapat bersifat sementara ataupun permanen. Reaksi pupil menjadi lambat ataupun menghilang pada reflex cahaya dan akomodasi.4
Pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi, dan silau akibat gangguan pengaturan masuknya sinar pada pupil. Pupil terlihat tidak sama besar atau anisokoria dan bentuk pupil dapat menjadi ireguler. Pupil ini tidak bereaksi terhadap sinar.1 Iris dapat menempel pada permukaan anterior lensa akibat dorongan anteroposterior yang kuat, yang menyebabkan pigmen iris yang menempel pada lensa. Hal ini akan menyebabkan miosis sementara, yang dibuktikan dengan adanya pola dari pigmen yang menempel sukuran dengan ukuran miosis pupil.4
Iridoplegia akibat trauma akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Pada pasien dengan iridoplegia sebaiknya diberi istirahat untuk mencegah terjadinya kelelahan sfingter dan pemberian roboransia.3

2.      Iridodialisis
Trauma tumpul dapat mengakibatkan robekan pada pangkal iris sehingga bentuk pupil dapat berubah.3 Robekan pada pangkal iris dapat terjadi akibat trauma tumpul dan mengakibatkan berubahnya bentuk pupil. Pupil biasanya berbentuk huruf D dan dialysisnya terlihat sebagai area bikonveks gelap deket limbus.4
Pasien akan melihat ganda dengan satu matanya. Akan terlihat pupil lonjong pada iridodialisis dan biasanya terjadi bersama hifema. Tatalaksana pada pasien ini adalah pembedahan dengan melakukan reposisi pada pangkal iris yang terlepas.3

  1. Hifema
Hifema merupakan keadaan dimana darah terdapat dalam bilik mata depan. Hal ini dapat disebabkan oleh trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Pasien akan mengeluh sakit, disertai dengan epifora dan blefarospasme. Penglihatan pasien akan sangat menurun. Sel darah merah akan menumpuk pada inferior bilik mata depan dan membentuk “fluid level” kecuali terjadi hifema total. Terkadang, sesudah hifema hilang atau satu minggu setelah trauma, dapat terjadi perdarahan baru atau hifema sekunder yang pengaruhnya akan lebih hebat.3,4
Pengobatan dilakukan dengan merawat pasien dengan tidur di tempat tidur yang ditinggikan 30 derajat pada kepala, diberikan koagulasi, dan penutup mata. Biasanya, hifema akan hilang sempurna. Selain itu, pengobatan bertujuan untuk mencegah perdarahan sekunder yang biasanya terjadi dan lebih sulit untuk dihentikan dan mengontrol tekanan intraokular yang dapat menyebabkan noda pada kornea dan glaukoma traumatik..3,4
Parasisntesis (mengeluarkan darah dari bilik mata depan) dilakukan pada pasien dengan hifema bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaucoma sekunder, hifema penuh, darah berwarna hitam, atau jika tidak terlihat tanda berkurangnya hifema dalam 5 hari. Zat besi dalam bola mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila didiamkan dapat menyebabkan ptisis bulbi dan kebutaan.3
Kadang-kadang setelah hifema hilang atau 7 hari setelah trauma dapat terjadi pendarahan atau hifema baru yang disebut hifema sekunder yang pengaruhnya akan lebih hebat karena pendarahan akan lebih sukar hilang.
Hifema yang menutupi kurang dari setengah bilik mata depan berhubungan dengan 4% insiden kenaikan tekanan intra ocular, 22% komplikasi, dan ketajaman penglihatan lebih dari 6/18 pada 78% mata. Hifema yang menutupi lebih dari setengah bilik mata depan, berhubungan dengan 85% kenaikan tekanan intraokular, 78% komplikasi, dan tajam penglihatan lebih dari 6/18 hanya 28% pada mata.

  1. Iridosiklitis
Pada trauma tumpul dapat terjadi reaksi jaringan uvea sehingga menimbulkan iridosiklitis atau radang uvea anterior. Pada mata akan terlihat mata merah, akibat adanya darah di dalam bilik mata depan maka akan terdapat suar dan pupil yang mengecil dengan ketajaman penglihatan yang menurun. Pada uveitis anterior diberikan tetes mata midriatik dan steroid topikal. Bila terlihat tanda radang berat maka dapat diberikan steroid sistemik. Sebaiknya pada mata ini diukur tekanan bola mata untuk persiapan memeriksa fundus dengan midriatika.3

2.1.5.   Trauma Tumpul Pada Lensa

1.         Dislokasi Lensa
Trauma tumpul lensa dapat menyebabkan dislokasi lensa. Dislokasi lensa terjadi pada putusnya zonula Zinn yang akan mengakibatkan kedudukan lensa terganggu.3


2.         Subluksasi Lensa
Subluksasi lensa terjadi akibat putusnya sebagian zonula Zinn sehingga lensa berpindah tempat.  Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang. Subluksasi lensa akan memberikan gambaran pada iris berupa iridodonesis.3
Akibat pegangan pada zonula tidak ada maka lensa yang elastis akan menjadi cembung dan mata akan menjadi lebih miopik. Lensa yang menjadi sangat cembung mendorong iris ke depan sehingga sudut bilik mata tertutup. Bila sudut bilik mata menjadi sempit, pada mata ini mudah terjadi glaukoma sekunder. Bila tidak terjadi penyulit subluksasi lensa, seperti glaukoma atau uveitis maka tidak dilakukan pengeluaran lensa dan diberi kaca mata koreksi yang sesuai.3 

3.         Luksasi Lensa Anterior
Bila seluruh zonula Zinn di sekitar ekuator putus akibat trauma maka lensa dapat masuk ke dalam bilik mata depan. Akibat lensa terletak di dalam bilik mata depan, maka akan terjadi gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata sehingga akan timbul glaukoma kongestif akut dengan gejala-gejalanya. 3
Pasien akan mengeluh penglihatan turun mendadak disertai rasa sakit yang hebat, muntah, mata merah dengan blefarospasme. Terdapat injeksi siliar yang berat, edema kornea, lensa di dalam bilik mata depan. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar. Tekanan bola mata sangat tinggi. 3
Pada luksasi lensa anterior sebaiknya pasien dikirim pada dokter mata untk dikeluarkan lensanya dengan terlebih dahulu diberikan asetazolamida untuk menurunkan tekanan bola matanya. 3

4.         Luksasi Lensa Posterior
Pada trauma tumpul yang keras pada mata dapat terkjadi luksasi lensa posterior akibat putusnya zonula Zinn di seluruh lingkaran ekuator lensa sehingga lensa terjatuh ke dalam badan kaca. Pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapang  pandangnya. 3 
Mata ini akan menunjukkan gejala mata tanpa lensa atau afakia. Pasien akan melihat normal dengan lensa +12.0 dioptri untuk jauh, bilik mata depan dalam dan iris tremulans. Lensa yang terlalu lama pada polus posterior dapat menimbulkan penyulit akibat degenerasi lensa, berupa glaukoma fakolitik ataupun uveitis fakotoksik. Bila luksasi lensa telah menimbulkan penyulit sebaiknya secepatnya dilakukan ekstraksi lensa. 3

5.         Katarak Trauma  
Katarak akibat cedera pada mata dapat akibat trauma perforasi atau pun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun beberapa tahun.  Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting) yang disebut cincin Vossius. 3
Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat, perforasi kecil akan menutup dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga bentuk kekeruhan terbatas kecil. Trauma tembus besar pada lensa akan mengakibatkan terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan terdapatnya masa lensa di dalam bilik mata depan. 3
Pengobatan katarak traumatik tergantung pada saat terjadinya. Bila terjadi pada anak, sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya ambliopia. Untuk mencegah ambliopia pada anak dapat dipasang lensa intra okular primer aau sekunder. 3
Pada katarak trauma bila tidak terdapat penyulit, maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Bila terjadi penyulit seperti glaukoma, uveitis dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Penyulit uveitis dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat terbentuk cincin Soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam penglihatan. Keadaan ini dapat disertai perdarahan, ablasi retina, uveitis atau salah letak lensa. 3


6.         Cincin Vossius
Pada trauma lensa dapat terlihat apa yang disebut sebagai cincin Vossius yang merupakan cincin berpigmen yang terletak tepat di belakang pupil yang dapat terjadi segera setelah trauma, yang merupakan deposit pigmen iris pada dataran depan lensa sesudah sesuatu trauma, seperti suatu stempel jari. Cincin hanya menunjukkan tanda bahwa mata tersebut telah mengalami suatu trauma tumpul. 3

2.1.6    Trauma Tumpul Retina
Trauma tumpul dapat mengakibatkan edema retina. Edema retina akan memberikan warna retina yang lebih abu-abu. Edema retina pada trauma tumpul juga akan mengakibatkan edema makula sehingga tidak akan tampak cherry red spot. Pada trauma tumpul hal yang paling ditakutkan adalah trauma makula. Pada keadaan ini akan terjadi edema yang luas sehingga seluruh polus posterior fundus okuli berwarna abu-abu. Umumnya penglihatan akan kembali norma setelah beberapa waktu, akan tetapi dapat juga penglihatan berkurang akibat tertimbunnya daerah makula oleh sel pigmen epitel. 3
Trauma tumpul dapat menyebabkan terlepasnya retina dari koroid. Biasanya pasien telah memiliki bakat untuk terjadinya ablasi retina, seperti retina tipis akibat retinitis semata, miopia, dan proses degenerasi lainnya. Pada pasien akan terdapat keluhan seperti adanya selaput yang seperti tabir yang mengganggu lapang pandangnya. Bila terkena atau tertutup daerah makula maka tajam penglihatannya akan menurun. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang bewarna abu-abu dengan pembuluh darah yang terlihat terangkat dan berkelok-kelok. Kadang-kadang terlihat pembuluh darah seperti terputus-putus.

2.1.7    Trauma Tumpul Koroid
Pada trauma keras dapat terjadi perdarahan subretina akibat ruptur koroid. Ruptur ini biasanya terletak di polus posterior bola mata dan melingkar kosentris di sekitar papil saraf optik. Bila ruptur koroid ini terletak atau mengenai daerah makula lutea maka tajam penglihatan akan turun drastis. Ruptur ini bila tertutup oleh perdarahan subretina agak sukar dilihat namun bila darah tersebut telah diabsorpsi maka akan terlihat bagian ruptur bewarna putih karena sklera dapat dilihat langsung tanpa koroid. 3

2.1.8    Trauma Tumpul Saraf Optik
Pada trauma tumpul dapat terjadi avulsi saraf optik atau terlepasnya saraf optik dari pangkal-pangkalnya di dalam bola mata. Keadaan ini menyebabkan penurunan visus dan sering berkahir pada kebutaan.Selain itu, trauma tumpul juga dapat mengakibatkan kompresi pada saraf optik, demikian pula perdarahan dan edema sekitar saraf optik. Penglihatan akan berkurang setelah cidera mata dan terdapat reaksi defek aferen pupil tanpa adanya kelainan nyata pada retina. Tanda lain yang dapat ditemukan adalah gangguan penglihatan warna dan lapang pandang. Pengobatan adalah dnegan memberikan steroid pada waktu akut. Bila penglihatan memburuk setelah steroid maka perlu dipertimbangkan pembedahan. 3

DAFTAR PUSTAKA
1.      Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asbury’s General Ophthalmology. Ed 17. New York:Mc-Graw Hill; 2007 [e-book]
2.      Centers for Disease Control and Prevention. Work-related Eye Injuries diunduh pada tanggal 2 Februari 2011.http://www.cdc.gov/features/dsworkPlaceEye/
3.      Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Keempat. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2011
4.      Kanski Jack J, editor. Clinical ophtalmology a sistemic approach. 6 Rev ed. Oxford:Butterworth Heinamann Ltd; 2007.
5.      William EB, John BJ. Blunt trauma in Duane’s Clinical Ophtalmology. Vol.3. Philadelphia: Lippincolt Williams & Wilkins. 2004. p 1-14

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment