Tuesday, September 18, 2012

Kisah Muhammad SAW: Musuh yang menjadi teman

Saya tulis cerita ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap film innocent of muslim. Melempari batu gedung Dubes AS, mencaci maki dengan perkataan yang buruk, kebetulan bukanlah cara perjuangan saya dalam membela Rasul ataupun membela Islam. Sabda Nabi Muhammad SAW yang saya ingat adalah "Janganlah marah" dan "Lawanlah dengan cara yang baik"

Cerita ini adalah upaya sederhana dari saya untuk mengingatkan kembali akan akhlak Muhammad SAW, dan membuktikan bahwa akhlak Beliau adalah hal yang terus bisa kita banggakan. Sepenggal film rekayasa tidak akan mengubah fakta sejarah betapa mulianya manusia yang satu ini (Muhammad SAW) :)

Kisah musuh yang menjadi teman

Enam tahun setelah hijrah,
Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk memperluas misinya menyebarkan Islam. Kemudian beliau mengirimkan surat kepada penguasa-penguasa di Arab dan daerah sekelilingnya untuk mengundang mereka masuk ke dalam Islam. Salah satu penguasa itu adalah Thumamah ibn Uthal.

Thumamah adalah salah satu pengasa yang paling ditakuti pada zamannya. Dia adalah penguasa dari Al-Yamamah, dimana perkataannya adalah perintah mutlak yang tak terlanggarkan. Saat ia menerima surat dari Nabi Muhammad SAW mengundangnya untuk masuk Islam, ia marah dan ingin membunuh Muhammad SAW.

Thumamah kemudian mulai membunuh kawan-kawan baik Muhammad SAW dan prajurit-prajuritnya. Mengetahui hal itu, Nabi Muhammad mendeklarasikan ia (Thumamah) sebagai seseorang yang dicari dan secara hukum sah untuk dibunuh bila terlihat.

Tidak lama setelah itu, Thumamah memutuskan pergi ke Ka'bah untuk tawaf dan menaruh berhalanya di sana. Oleh karena itu, ia pergi dan meninggalkan Al-Yamamah.  Kemudian saat mendekati Madinah, sekawanan muslim yang sedang berpatroli di daerah Madinah (bertugas menangkap orang-orang asing yang mencoba memunculkan masalah) menawan Thumamah. Namun, sekawanan muslim ini tidak mengetahui bahwa orang asing itu adalah Thumamah. Mereka pun membawanya ke Rasulullah untuk menanyakan apa yang harus dilakukan terhadap orang asing ini.

Saat Rasulullah memasuki mesjid dan melihat Thumamah, Rasulullah SAW bertanya kepada kawanannya itu "Apakah kalian tahu siapa yang telah kalian tangkap ini?" Mereka menjawab "tidak Rasul". "Ini adalah Thumamah ibn Uthal al-Hanafi. Kalian telah bekerja baik dengan menangkapnya" Kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasul pulang ke rumahnya dna menemui keluarganya. "Ambillah makanan apapun, dan berikan ke Thumamah ibn Uthal". Rasul juga meminta seseorang mengambil susu untuk diberikan kepada Thumamah.

Nabi Muhammad SAW kemudian kembali menemui Thumamah dan berbicara dengan baik untuk mengajaknya menjadi seorang muslim. Rasulullah kemudian bertanya "Bagaimana, apakah kamu bersedia?"

Thumamah menjawab "Jika kamu ingin balas dendam, kamu bisa menyuruh seseorang untuk membunuhku. Jika kamu ingin memaafkan aku, aku akan sangat senang. Jika kamu menginginkan uang sebagai kompensasinya, aku akan berikan berapapun yang kamu minta."

Rasulullah kemudian membiarkannya selama dua hari, namun tetap mengantarkan secara personal makanan, minuman termasuk susu untuk Thumamah. Rasul kembali datang kepadanya dan mengajaknya kembali masuk Islam "Apakah kamu bersedia?'. Thumamah mengulang jawabannya dua hari lalu. Nabi Muhammad SAW meninggalkannya lagi, dan kembali keesokan harinya "Apakah kamu bersedia?" Thumamah kembali mengulang jawabannya. Kemudian  Rasulullah menemui prajuritnya dan mengatakan "Bebaskan dia"

Thumamah kemudian meninggalkan mesjid tersebut dan pergi sampai ia tiba di sebuah hutan palem di luar Madinah dekat al-Baqi'. Ia kemudian memberi minum untanya dan membersihkan diri. Lalu ia berputar arah, kembali ke mesjid Rasulullah sebelumnya.

Ia berdiri di depan jemaah muslim seraya berkata "Aku bersumpah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersumpah bahwa Muhammad adalah utusan Allah". Kemudian ia kembali menemui Rasul dan berkata: "O Muhammad, demi Tuhan, sebelumnya tidak ada wajah seorangpun di bumi ini yang paling aku benci selain dirimu, Sekarang, wajahmu adalah hal yang paling aku sayangi dalam diriku". Thumamah melanjutkan "Aku telah membunuh beberapa dari orangmu, kini aku dalam kemurahan hatimu, apa yang akan kau lakukan padaku?"

"Sekarang tidak ada yang akan menyalahkanmu, Thumamah" jawab Rasul. "Menjadi seorang muslim telah menghapuskan dosamu di masa lalu, dan membuat awal yang baru untukmu"

Dikisahkan: "Companions of The Prophet", by: Abdul Wahid Hamid

Baca juga:
Kantong Plastik Hitam
Cerita Tukang Becak Naik Haji
Cerita Sepotong Roti
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment