Monday, January 7, 2013

Jodoh

Ada sebuah cerita menarik tentang jodoh yang pernah saya dapatkan sewaktu mengikuti seminar pernikahan. Ini adalah kisah nyata seorang ustadz.

Suatu ketika seorang pria ingin menikah dengan niat menyempurnakan ibadahnya kepada Allah. Pria ini bukan pria sembarangan, ia sarjana, ia anak seorang ustadz kaya raya, dan agamanya baik. Dia pun meminta seseorang untuk mencarikannya jodoh. Oleh karena dia bukan orang sembarangan, si pencari ini menanyakan kepadanya apa kira-kira kriteria yang dia harapkan? Si ustadz hanya mengatakan seorang wanita yang beragama islam. Tentu ini adalah kriteria yang begitu general, si pencari pun menanyakan kembali, "apakah tidak ada kriteria khusus yang kau inginkan?" Si ustadz hanya menggelengkan kepala. Si pencari pun akhirnya berdiam diri dan bertekad mencarikan yang terbaik yang ia bisa dapatkan.


Di balik itu semua, si ustadz sebenarnya bukan tidak memiliki kriteria, ia punya kriteria hanya saja ia tidak mau mengatakannya kepada si pencari, kenapa? Ia mengatakan hal ini, "sebenarnya berkriteria itu juga boleh hanya saja, apabila saya mengatakannya ke si pencari, maka kemungkinan gadis yang menjadi pilihan untuk saya akan semakin kecil karena kriteria yang saya buat sendiri, padahal bisa jadi kriteria yang saya ucapkan bukan kriteria terbaik menurut versi Allah, bisa jadi hal yang saya krang inginkan baik menurut rencana Allah. Intinya, belum tentu kriteria yang saya ucapkan memang yang terbaik untuk saya" akhirnya sang ustadz memilih memendam kriterianya dan hanya menceritakan kriterianya ke satu pihak, yakni Allah. Mengapa demikian? "Saya merasa perlu curhat kepada Allah tentang apayang sebenarnya saya inginkan dan harapkan. Saya merasa perlu untuk meminta kepada Allah tentang apa yang hati saya inginkan, karena saya yakin, sekalipun Allah tahu, pada akhirnya Allah maha bijaksana dan dia akan memberikan sesuatu seperti atau lebih baik dari yang saya inginkan"

Akhirnya si pencari pun mendapatkan seorang perempuan untuk dicalonkan dengan si ustadz. Setelah mendapat penjelasan singkat tentang perempuan ini, si ustadz langsung berkata "ya" walaupun belum pernah bertemu dan walaupun dalam hati kecilnya, perempuan ini sebenarnya bukanlah kriteria yang ia inginkan. Pikirannya sederhana, bisa jadi kriteria yang ia sebutkan kepada Allah bukanlah kriteria terbaik untuknya, bisa jadi perempuan ini memang yang terbaik untuknya. Ia hanya mampu berprasangka baik kepada Allah SWT. Sampai akhirnya, terjadi satu dan lain hal dari pihak perempuan yang mengakibatkan pernikahan ini pun dibatalkan.

Si pencari pun kembali menyodorkannya dengan gadis lain, kebetulan gadis yang kedua ini, sebenarnya juga tidaklah sesuai dengan kriteria yang ia inginkan, ia pun kembali berprasangka baik, dengan langsung mengatakan "iya". Ternyata fenomena kembali berulang! Ada satu dan lain hal darinpihak perempuan yang akhirnyabmembatalkan proses ini.

Dan kejadian ini berulang hingga tujuh kali.....

Ini adalah ke delapan kalinya sang ustadz mencoba untuk taaruf. Seperti biasanya si pencari menyodorkan seorang perempuan, dan sang ustadz kembali mengatakan "Ya" hanya perbedaannya, kali ini perempuan tersebut benar-benar memenuhi kriterianya, sesuai harapannya. Akhirnya, semua begitu dimudahkan, pernikahan diantara mereka lancar dan bahagia.

Terakhir sang ustadz mengatakan kesimpulan yang ia dapatkan dari proses taaruf dirinya.

"Tetaplah berpegang teguh pada keyakinan bahwa apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah. Setiap manusia wajar memiliki kriteria, namun pastikan hanya Allah yang mengetahui, Ia maha bijaksana untuk menilai apa yang terbaik untuk kita dan yang terakhir.....

"Ingatlah bahwa kalau ia bukan jodohmu, mau didekatkan sedekat apapun oleh manusia, ia tetap tidak akan jadi jodohmu, dan kalau ia memang jodohmu, dijauhkan sejauh apapun, ia akan tetap jadi jodohmu"

Baca Juga:
Sepotong Roti
Kantung Plastik Hitam
Pahala Sholat Jumat

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment