Monday, April 29, 2013

Meningitis dan Enchephalitis Pada Anak


Keluhan kejang sering muncul di masyarakat. Sebagian disebabkan oleh kejang demam, namun tak jarang disebabkan oleh infeksi susunan saraf pusat (seperti : otak). Infeksi susunan saraf pusat ini ada yang berupa ensephalitis dan ada pula meningitis atau meningoensephalitis.

Ensephalitis
Kejang yang disertai demam mendadak tinggi, penurunan kesadaran, dan nyeri kepala merupakan gejala dari ensephalitis. Penyebab tersering ensephalitis ini adalah virus herpes simpleks dan virus varisela.

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan:

  • hiperpireksia, ciri infeksi virus
  • kesadaran menurun (dapat disebabkan oleh edema otak, umum atau fokal)
  • defisit neurologis seperti hemiparesis
  • lesi UMN seperti spastis, hiperrefleks, refleks patologis, dan klonus
Pemeriksaan Penunjang
  • Darah tepi lengkap (apakah terdapat leukopenia?)
  • Pungsi lumbal 
    • Warnanya jernih
    • Glukosa normal (karena virus tidak membutuhkan glukosa untuk makanannya)
    • Protein meningkat sedikit < 200 mg/dl
    • Jumlah selnya bisa meningkat 5-200/mm3 (didominasi limfosit sebagai reaksi tubuh
  • Elektroensphalopati
    • Umumnya ditemukan gambaran perlambatan atau gelombang epileptiform baik umum maupun fokal
Tata Laksana Umum
  • Antipiretik untuk hiperpireksia, 
  • cairan elektrolit menjaga keseimbangan elektrolit dan cairan, 
  • Tata laksana kejang sesuai protokol. 
  • Bila terjadi peningkatan tekanan intrakranial (muntah proyektil, edema papil) dapat diberikan manitol 0,5-1 mg/kgBB/kali atau furosemid 1 mg/kgBB/kali
  • Bila terjadi vaskulitis inflamasi, mielitis, neuritis optik, dapat diberikan kortikosteroid dosis tinggi selama 2 minggu. metil-prednisolon 15 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis selama 3-5 hari, dilanjutkan prednison oral 1-2 mg/kgBB/hari selama 7-10 hari. 
  • Pasien indikasi HCU. 
Ensephalitis Herpes Simpleks
Ensephalitis tipe ini sering menyebabkan kematian. Ciri khasnya adalah sebelum demam tinggi terdapat gejala prodormal seperti influensa. Hal yang terpenting adalah pada pemeriksaan fisik umumnya ditemukan defisit neurologis fokal dan kejang fokal. Pada pemeriksaan elektroensphalopati sering ditemukan perlambatan fokal di daerah temporal.

Tata laksana
Tata laksana umum ditambah dengan Asiklovir 10mg/kgBB per 8 jam selama 10-14 hari dalam infus 100 ml NaCl 0,9%. Dosis neonatus 20 mg/kgBB per 8 jam selama 14-21 hari. Segera konsul ke Rehabilitasi Medik untuk mobilisasi pertahap dan mengurangi spastisitas dan mencegah kontraktur. 

Selain ensephalitis yang umumnya disebabkan oleh virus, dan bergejala hiperpireksia. Ada pula meningitis, suatu infeksi yang mengenai selaput otak. Ada meningitis bakterialis, namun ada pula meningitis tuberkulosis.

Meningitis Bakterialis
Meningitis bakterialis biasanya terjadi demam, nyeri kepala, penurunan kesadaran, kejang, dll. Biasanya sebelumnya pasien mengalami infeksi saluran pencernaan dan pernafasan. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan:
  • Gangguan kesadaran
  • Pada kepala: Ubun-ubun yang menonjol
  • Pada leher: kaku kuduk
  • Defisit neurologis dan ditemukan rangsang meningeal lainnya seperti kernig sign, laseg sign. 
  • Tanda infeksi di tempat lainnya
Penyebab meningitis bakterialis
  • Usia 0-2 bulan : Streptococcus group B, Escheriachia colli
  • Usia 2 bulan - 5 tahun : Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Hemophillus influenza
  • Usia di atas 5 tahun : Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis
Pada pemeriksaan penunjang:
  • Darah Perifer Lengkap (Leukositosis? shift to the left?)
  • Pungsi lumbal
    • Warna keruh
    • Jumlah sel meningkat 100-10.000/mm3
    • Protein sangat meningkat 200-500 mg/dl
    • Glukosanya rendah < 40 mg/dl
  • Pada CT Scan dapat ditemukan empiema subdural, abses otak, hidrosephalus yang merupakan komplikasi. 
Tata Laksana
Terapi empirik antibiotik
  • Usia 1-3 bulan
    • Ampisillin 200-400 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis + sefotaksim 200-300mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis atau
    • Seftriakson 100 mg/kgBB/hari IV dalam 2 dosis
  • Usia lebih dari 3 bulan
    • Sefotaksim 200-300 mg/kgBB/hari/ IV dalam 3-4 dosis
    • Seftriakson 100 mg/kgBB/hari IV dalam 2 dosis
    • Ampisillin 200-400 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis + kloramphenikol 100 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis
Deksamethasone 0,6 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis selama 4 hari. Injeksi diberikan 15-30 menit sebelum atau saat pemberian antibiotik. 
Lama pemberian 10-14 hari. 
Meningitis Tuberkulosis
Gejala meningitis ini umumnya sama dengan meningitis di atas hanya saja ditambah kontak dengan penderita TB, ada penurunan berat badan, serta riwayak batuk-batuk lama. Biasanya manifestasi klinisnya terbagi dalam tiga stadium:
  • Stadium 1
    • Tampak apatis, demam, malaise, mual, (tidak ada kelainan neurologi)
  • Stadium 2
    • Tampak mengantuk, disorientasi, muncul tanda rangsang meningeal, kejang fokal, gerakan infolunter
  • Stadium 3
    • Kesadaran maskin menurun, koma, tand apeningkatan tekanan intrakranial, pupil terfiksasi, spastis. 
Pada pemeriksaan penunjang:
  • Leukositosis
  • Hiponatremia dan hipokloremia akibat SIADH
  • Pada pungsi lumbal
    • LCS dapat jernih, keruh, atau xantokrome
    • jumlah sel 10-250 mm/3 predominan limfosit
    • Protein di atas 100 mg/dl
    • Glukosa sangat turun hingga 35 mg/dl (berbeda dengan ensphalitis virus yang normal)
  • Cek BTA dan kultur M.Tb
  • Rontgen dada
  • Uji tuberkulin
Tata Laksana
  • RHZE 2 bulan, RH 10 bulan
  • Dosis:
    • INH 10-20 mg/kgBB/hari
    • Rifampisin 10-20 mg/kgBB/hari
    • Pirazinamid 15-30 mg/kgBB/hari
    • Etambutol 15-20 mg/kgBB/hari
  • Kortikosteroid dapat diberikan bila ada edema serebral. Prednison 1-2 mg/kgbb/hari 6-8 minggu.
Penting:
  • Pada pasien lingkar kepala harus diukur  setiap hari 
  • Pantau kadar elektrolit untuk melihat adnaya komplikasi SIADH yang ditandai dengan natrium kurang dari 135 mEq, penurunan osmolaritas serum, tanpa ada tanda dehidrasi atau hipovolemia. 
  • Jangan lupa untuk cek fungsi hati, fungsi ginjal, darah perifer serial karena dalam penggunaan antibiotik dosis tinggi.
  • Lakukan uji fungsi pendengaran setelah pasien membaik. 
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment