Thursday, May 23, 2013

Hubungan Hipertensi dan Gagal Jantung


Penyakit Jantung Hipertensi
Oleh Yogi Ismail Gani, S.Ked

Patogenesis Penyakit Jantung Hipertensi
                Hipertrofi ventrikel kiri (HVK) merupakan kompensasi jantung menghadapi tekanan darah tinggi ditambah dengan faktor neurohumoral yang ditandai oleh penebalan konsentrik otot jantung (hipertrofi konsentrik). Fungsi diastolik akan mulai terganggu akibat dari gangguan relaksasi ventrikel kiri, kemudian disusul oleh dilatasi ventrikel kiri (hipertrofi eksentrik). Rangsangan simpatis dan aktivasi sistem RAA memacu mekanisme Frank-Starling melalui peningkatan volume diastolik ventrikel sampai tahap tertentu dan pada akhirnya akan terjadi gangguan kontraksi miokard (penurunan/gangguan fungsi sistolik).
                Iskemia miokard (asimtomatik, angina pektoris, infark jantung, dll) dapat terjadi karena kombinasi akselerasi proses aterosklerosis dengan peningkatan kebutuhan oksigen miokard akibat dari HVK. HVK, iskemia miokard dan gangguan fungsi endotel merupakan faktor utama kerusakan miosit pada hipertensi. 

Manifestasi Klinik
                Pada tahap awal, seperti hipertensi pada umumnya kebanyakan pasien tidak ada keluhan. Bila simtomatik, maka biasanya disebabkan oleh
1.       Peninggian tekanan darah itu sendiri, seperti berdebar-debar, rasa melayang (dizzy) dan impoten.
2.       Penyakit jantung/hipertensi vaskuler seperti cepat capek, sesak napas, sakit dada (iskemia miokard atau diseksi aorta), bengkak kedua kaki atau perut. Gangguan vaskular lainnya adalah epistaksis, hematuria, pandangan kabur karena perdarahan retina, transient serebral ischemic.
3.       Penyakit dasar seperti pada hipertensi sekunder: polidipsia, poliuria, dan kelemahan otot pada aldosteronisme primer, peningkatan BB dengan emosi yang labil pada sindrom Cushing. Feokromositoma dapat muncul dengan keluhan episode sakit kepala, palpitasi, banyak keringat dan rasa melayang saat berdiri (postural dizzy).

Diagnosis Banding
  1. Aterosklerosis arteri koronaria
  2. Kardiomiopati hipertrofi
  3. Athlete's heart (dengan hipertrofi ventrikel kiri)
  4. Gagal jantung kongenital karena etiologi lain
  5. Fibrilasi atrium karena etiologi lain
  6. Disfungsi diastolik akibat etiologi lain
  7. Sleep apnea
Pemeriksaan Penunjang
        Pada foto toraks posisi posteroanterior pasien hipertrofi konsentrik, besar jantung dalam batas normal. Pembesaran jantung ke kiri terjadi bila sudah ada dilatasi ventrikel kiri. Terdapat elongasi aorta pada hipertensi yang kronik dan tanda-tanda bendungan pembuluh paru pada stadium payah jantung hipertensi.
       Pemeriksaaan laboratorium darah rutin yang diperlukan adalah Hematokrit serta ureum dan kreatinin untuk menilai fungsi ginjal. Pemeriksaan laboratorium  yang lain adalah Hb, kalium, gula darah puasa, kolesterol total, TSH, leukosit darah, trigeliserida, HDL dan kolesterol LDL, kalsium, fosfor. Selain itu juga elektrolit untuk melihat kemungkinan adanya kelainan hormonal aldosteron. Pemeriksaan laboratorium urinalisis(protein, leukosit, eritrosit, dan silinder) juga diperlukan untuk melihat adanya kelainan pada ginjal.
               Pada EKG tampak tanda-tanda hipertrofi ventrikel kiri dan strain. Ekokardiografi (Transthoracic echocardiography (TTE))  dapat mendeteksi hipertrofi ventrikel kiri secara dini dan lebih spesifik (spesifitas sekitar 95-100%) mencakup kelainan anatomik dan fungsional jantung pasien hipertensi asimtomatik yang belum didapatkan kelainan pada EKG dan radiologi. Indikasi ekokardiografi pada pasien hipertensi adalah:
1.       Konfirmasi gangguan jantung atau murmur
2.       Hipertensi dengan kelainan katup
3.       Hipertensi pada anak atau remaja
4.       Hipertensi saat aktivitas, tetapi normal saat istirahat
5.       Hipertensi disertai sesak napas yang belum jelas sebabnya

Penatalaksanaan & Pencegahan
                Pengobatan ditujukan untuk menurunkan tekanan darah menjadi normal, mengobati payah jantung karena hipertensi, mengurangi morbiditas dan mortilitas terhadap penyakit kardiovaskular, dan menurunkan faktor risiko terhadap penyakit kardiovaskular semaksimal mungkin. Diet spesifik yang direkomendasikan adalah diet rendah sodium, tinggi potasium, sering makan buah segar dan sayur-sayuran, makanan rendah kolesterol, dan konsumsi alkohol yang kurang. Latihan isotonik yang dinamik serta regular (aerobik), seperti berjalan, berlari, berenang, atau bersepeda, mengakibatkan penurunan tekanan darah dan menaikkan perbaikan sistem kardiovaskuler. Oleh sebab itu pencegahan yang dapat dilakukan untuk penyakit jantung hipertensi ini adalah makanan rendah sodium, makan buah dan sayuran, olahraga aerobik, dan mencegah obesitas.
                Penatalaksanaan umum hipertensi mengacu kepada tuntunan umum (JNC VII 2003, ESH/ESC 2003). Pengelolaan lipid agresif dan pemberian aspirin sangat bermanfaat. Pasien hipertensi pasca infark jantung sangat mendapat manfaat pengobatan dengan penyekat beta, penghambat ACE atau antialdosteron. Pasien hipertensi dengan risiko PJK yang tinggi mendapat manfaat dengan pengobatan diuretik, penyekat beta dan penghambat kalsium. Pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ventrikel mendapat manfaat tinggi dengan pengobatan diuretik, penghambat, ACE/ARB, penyekat beta dan antagonis aldosteron. Bila sudah dalam tahap gagal jantung hipertensi, maka prinsip pengobatannya sama dengan pengobatan gagal jantung yang lain yaitu diuretik, penghambat ACE/ARB, penghambat beta, dan penghambat aldosteron.
Sumber pustaka
  1. Penyakit Jantung Koroner. Kapita Selekta Kedokteran ed 3 jilid 1. Jakarta; Media Aesculapius, 2000.
  2. Panggabean, Marulam M. Penyakit Jantung Koroner. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam ed 5 jilid 2. Jakarta; InternaPublishing, 2009.
  3. Riaz, Kamran. Hypertensive Heart Disease. http://emedicine.medscape.com/article/162449-overview [Updated: Apr 29, 2010]. diunduh tanggal 4 Mei 2010 pukul 16.07.
 Hubungi Yogi di Ismail_milanisti@yahoo.com
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment