Wednesday, May 1, 2013

Pendekatan Dignosis Pucat-Anemia pada Anak

Pucat yang terlihat disebabkan oleh anemia. Batasan anemia pada anak secara praktis adalah
  • Kurang dari 11 g/dl bila anak di bawah enam tahun
  • Kurang dari 12 g/dl bila anak di atas enam tahun
Awal diagnosis anemia atau pucat pada anak adalah membedakan apakah akut atau kronik. Anemia yang kronik berarti pucat yang dialami telah terjadi berbulan-bulan sedangkan anemia akut baru terjadi beberapa hari atau minggu.

Akut atau kronik ini akan mengerucutkan diagnosis
Anemia atau pucat yang terjadi secara akut:
  • Perdarahan yg baru terjadi contoh: akibat mimisan hebat, atau batuk darah hebat, kecelakaan sehingga perdarahan yang banyak, menstruasi yang berkepanjangan. 
  • Gangguan pembentukan sel darah merah mendadak bisa ditemukan pada anaplasia sumsum tulang, atau leukimia akut 
  • Dekstruksi sel darah merah mendadak, contoh akibat sepsis, atau hemolitik seperti defisiensi G6PD
Anemia atau pucat yang terjadi kronik atau menahun:
  • Kekurangan bahan pembentuk sel darah: defisiensi zat besi, defisiensi asam folat
  • Gangguan pembentukan sel darah merah: leukimia kronik
  • Kelainan hemoglobin seperti hemoglobinopati, thallasemia
  • Perdarahan sedikit-sedikit yang berlangsung lama: BAB berdarah, infeksi cacing
  • Autoimun : AIHA

Anemia yang terjadi akut, pertanyaan yang bisa diajukan adalah:
  • Apakah ada perdarahan hebat yang baru terjadi?
  • Apakah ada demam? perut yang semakin membesar atau rasa cepat kenyang begah di perut? Bila pasien ada demam disertai perut yang semakin besar, begah, kemungkinan leukimia akut. Bila ada demam tanpa perubahan apapun pada perut, kemungkinan anemia aplastik. Intinya perbesaran perut tersebut menandakan organomegali. Namun bila tidak ada perbesaran organ, leukimia tetap tidak bisa disingkirkan sebab ada yang disebut leukimia aligemik dimana tanda-tanda organomegalinya belum muncul.
  • Apakah ada pusing? Nyeri sendi? Benjolan di leher atau paha? Hal ini mengarahkan pada leukimia akut dimana terjadi infiltrasi dari sel-sel darahbputih ke organ-organ tersebut. 
  • Apakah ada kelainan darah pada keluarga? Arah diagnosis G6PD 
Apabila jawaban dari pasien Anda pucat ini terjadi kronik atau telah menahun, maka pertanyaan selanjutnya
  • Apakah ada penyakit menahun? TB? Malaria? Mengarahkan pada anemia akibat penyakit kronik
  • Bagaimana kebiasaan makan pasien? Mengarahkan pada kemungkinan defisiensi besi, as. Folat
  • Apakah ada riwayat transfusi berulang? Anemia pada keluarga? Megarahkan pada thallasemia
  • Apakah suka sakit perut? BAB keluar cacing? Minum obat cacing? 
Pada pemeriksaan fisik

  • Tanda yang dapat ditemukan pada anemia defisiensi besi: koilonychia (kuku sendok), atrofi papil lidah
  • Pada defisiensi asam folat : glositis
  • Pada thalasemia : facies cooley, perbesaran hepar dan limpa
  • Pada autoimun : ikterik atau kuning
  • Pada leukimia akut atau kronik : perbesaran KGB
Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat pada anemia karena pendekatan diagnosis dapat didirikan dari temuan lab. Pertama-tama harus dibedakan apakah anemia ini jenis, mikrositik hipokrom, normositik normokrom, atau makrositik hiperkrom.

Nilai MCV (mean corpuscular volume) : Ht/eritrosit x 10 = .... Nilai normalnya 79-96 fl
Nilai MCH (mean corpuscular Hb) : Hb/ eritrosit x 10 =..... Nilai normalnya 27-32 fl
Nilai MCHC (mean corpuscular Hb concentration) : Hb/Ht x 100 = ...... Nilai normalnya 32-37%

Nilai mikrositik hipokrom berarti volume dan Hb dalam sel darah merah kecil atau sedikit, hal ini bisa ditemukan pada:
  • Anemia Defisiensi Besi (ADB)
  • Thallasemia
  • Malnutrisi
  • Anemia sideroblastik
  • Anemia penyakit kronis
Perbedaan  ADB dan thallasemia dapat dilihat dari :
  • Indeks Mentzer (MCV/jumlah eritrosit) bila kurang dari 13 maka thallasemia, sedangkan bila lebih dari 13 kemungkinan defisiensi besi, hemoglobinopati.
  • Selain itu pada apusan darah tepi, pada thallasemia akan ditemukan basophilic stiping, sel target, sedangkan pada ADB akan ditemukan sel pensil. 
Perbedaan ADB dan penyakit kronis
  • Pada ADB, TIBC akan meningkat, sedangkan pada penyakit kronik nilai TIBC akan menurun. Sedangkan nilai ferritin, transferin dapat ditemukan sama rendah. Penyakit kronik pun dapat menyebabkan defisiensi besi sehingga dua hal ini bisa bersifat super imposed satu sama lain. 
Pada temuan normositik normokrom perlu dibedakan lagi berdasarkan nilai retikulosit. Retikulosit merupakan sel darah merah muda, yang timbul akibat kompensasi.
  • Pada normositik dengan retikulosit meningkat, biasa ditemukan pada perdarahan akut, atau hemolitik. Maka lakukan pemeriksaan bilirubin. Bila bilirubin normal maka perdarahan, bila bilirubin meningkat maka hemolitik. Jika ditemukan hemolitik, lakukan uji coombs. Bila uji coombs positif maka kerusakan terjadi autoimun atau isoimun, jika coombs negatif bisa disebabkan oleh hemoglobinopati, defek membran, karena infeksi atau obat-obatan. 
  • Pada normositik dengan retikulosit menurun, maka lihat sel leukosit dan trombositnya juga. Bila nilai leukosit dan trombositnya juga turun bisa dipikirkan anemia aplastik. Jika nilai lainnya tidak turun, kemungkinan pure red cells aplasia, atau eritroblastopenia. Jika nilainya meningkat maka kecurigaan terjadi infeksi. 
Pada temuan anemia makrositik penyakit yang mungkin mendasari adalah
  • Defisiensi asam folat
  • Defisiensi vit B 12
  • Hipotiroid
  • Post splenektomi
  • Penyakit hati
Detail tentang 


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment