Wednesday, December 18, 2013

Irritable Bowel Syndrome (IBS)

IBS adalah salah satu penyakit GI fungsional. Pengertian IBS sendiri adalah adanya nyeri perut, distensi dan gangguan pola defekasi tanpa adanya gangguan organic. Gejala yang muncul dapat bervariasi. Penegakan diagnosis atas IBS tidak mudah, sebab tidak ada pemeriksaan fisik dan laboratorium yang spesifik pada pasien IBS.
Etiologi. Banyak factor yang diperkirakan bisa berhubungan dengan kejadian IBS, misalnya gangguan motilitas, intoleransi makanan, abnormalitas sensoris, abnormalitas aksis brain-gut, hipersensitivitas visceral, dan paska infeksi usus. Kelainan defekasi yang terjadi pada IBS bisa predominan diare ataupun konstipasi. Pada IBS tipe diare berarti terjadi peningkatan kontraksi usus dan memendeknya waktu transit kolon dan usus halus.
IBS paska infeksi terjadi pada sepertiga kasus. Keluhan IBS muncul setelah 1 bulan infeksi. Penyebab IBS paska infeksi antara lain virus, giardia atau amuba. Pasien IBS paska infeksi biasanya mempunyai gejala perut kembung, nyeri abdomen dan diare.
Etiologi pasti IBS belum dapat ditentukan, namun terdapat suatu teori yang mengatakan bahwa penderita IBS memiliki kolon yang sensitive dan reaktif pada makanan tertentu dan pada stress.

Kriteria Diagnosis. Saat ini criteria diagnosis yang digunakan adalah kriteria Rome II. Kriteria ini didasarkan adanya keluhan berupa rasa tidak nyaman atau nyeri yang telah berlangsung selama 12 minggu (tidak perlu berurutan) dan telah berlangsung dalam 12 bulan terakhir dan tidak bisa dijelaskan dengan adanya abnormalitas secara kelainan struktur dan biokimiawi. Kriteria lain yaitu harus ada sedikitnya 2 dari 3 hal berikut ini: yaitu hilangnya rasa nyeri setelah defekasi, perubahan frekuensi defekasi, perubahan bentuk feses.
Nyeri yang dirasakan pada IBC berpindah-pindah dan hanya sebentar, periode terjadinya pun tidak menentu.
Diagnosis banding. Pada IBS diare sering didiagnosis dengan defisiensi lactase. Kelainan lain yang juga harus dipikirkan yaitu kanker kolorektal, diverticulitis, IBD, obstruksi mekanik usus halus/ kolon, malabsorpsi, iskemi.
Tatalaksana. Penatalaksaan pasien dengan IBS meliputi  modifikasi diet, intervensi psikologi dan farmakoterapi.
Modifikasi diet berupa pengurangan konsumsi serat untuk IBS tipe diare. Beberapa makanan yang sering mencetuskan IBS antara lain bawang, gandum, susu, kafein, coklat, harus dihindari.
Psikoterapi dilakukan untuk meredakan kecemasan berlebihan pasien yang khawatir adanya penyakit organic pada dirinya. Apabila kemungkinan penyakit organik sudah tersingkir maka harus dikomunikasikan dengan baik pada pasien. Yang juga penting adalah pasien harus diingatkan untuk mengendalikan stresnya.Jangan bekerja berlebihan, sempatkan istirahat dan makan.
Obat-obatan yang diberikan terutama untuk menghilangkan gejala yang timbul misalnya nyeri abdomen, mengatasi diare dan obat antiansietas.
Prognosis. Penyakit IBS tidak meningkatkan mortalitas, gejala-gejala pasien IBS akan membaik biasanya setelah 12 bulan pada 50% kasus.

Penulis: dr. Atika
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment