Saturday, December 14, 2013

Penyakit Crohn



Penyakit ini bersama dengan penyakit colitis ulseratif dikenal sebagai Inflammatory Bowel Disease (IBD) idiopatik. Penyakit Crohn dapat menyerang seluruh bagian saluran gastrointestinal, mulai dari mulut (berupa stomatitis) sampai lesi pada anus.
Epidemiologi. Dapat terjadi pada usia berapapun, namun insidensi puncak antara decade kedua dan ketiga kehidupan.
Etiologi. Masih belum diketahui, namun diduga disebabkan oleh mikobakterium atipikal, measles, dan penyakit vascular. Kebiasaan merokok meningkatkan resiko menderita penyakit Crohn.

Manifestasi klinis. Gejala utama adalah terjadinya diare berulang, nyeri abdomen, demam yang berlangsung harian-mingguan, dan penurunan berat badan. Sering pula didapatkan malaise, kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah. Manifestasi ini bisa dimulai perlahan, namun pada beberapa kesempatan onset nyeri sangat tiba-tiba dan terasa sangat menyakitkan serta diare  sedang yang juga mendadak, sehingga pada pemeriksaan abdomen dihasilkan diagnosis appendicitis.
Pada kebanyakan pasien, setelah serangan awal, manifestasi bisa saja berhenti  (baik secara spontan maupun dengan terapi), namun karakteristiknya adalah terjadi relaps dengan periode waktu relaps yang bisa bervariasi.
Penyakit Crohn harus dapat dibedakan dengan penyakit colitis ulseratif. Tabel berikut menunjukkan perbedaannya:


Penyakit Crohn
Kolitis Ulseratif
Distribusi
Kolon, lesi selalu bersambung
Traktus Gastrointestinal (terutama usus halus dan kolon), lesi bisa saja tidak bersambung
Makroskopik
Ulkus horizontal berbatas tidak tegas, jarang fistula,  jarang striktur, pemendekan lapisan otot kolon, granuloma tidak ada
Ulkus dalam, terjadi fissure dimukosa, 10% terjadi fistula, pemendekan akibat fibrosis, terjadi striktur segera, ada granuloma
Reaksi Limfoid dan fibrosis
Tidak jelas
Jelas
Serositis
Berat
Sedang
Malabsorpsi lemak atau vitamin
Tidak ada
Ada, bila mengenai usus halus

Penyakit Crohn bisa saja menimbulkan manifestasi seperti iritis, uveitis, sacroilitis, erythema nodosum, dll. Jadi penyakit ini dapatdipandang sebagai penyakit inflamasi sistemik dengan keterlibatan GI yang dominan.  Karakteristik khusus lain dari penyakit ini adanya potensi kemunculan malabsorpsi.
Pemeriksaan Penunjang. Pada pemeriksaan darah tepi, analisis dan kultur feses dapat ditemukan anemia (defisiensi besi, asam folat atau vitamin B12 ), peningkatan jumlah leukosit, dan LED yang tinggi. Dapat pula dilakukan sigmoidoskopi/ kolonoskopi. Foto polos abdomen akan menentukan ada tidaknya obstruksi. Pemeriksaan barium enema dapat memperlihatkan gambaran khas dengan ulkus dalam, striktur, dan lesi terputus.
Penatalaksaaan.
-          Umum: Koreksi anemia, malnutrisi, dehidrasi
                Suplementasi vitamin besi, atau asam folat
-          Farmakologi: Salisilat: sufasalazin, mesalazin, olsalazin
                Kortikosteroid, agen imunosupresan, metronidazole
      Pencegahan relaps dengan 5-ASA, atau metasalazin 1,5-2,4 g/hari dpat mereduksi relaps pada ileum sekitar 30% sampai melebihi 12 bulan
-          Operatif: Lebih dari 80% pasien yang telah lama menderita Crohn akan menjalani operasi. Walaupun operasi tidak mencegah rekurensi, namun dapat menghilanhkan gejala dalam waktu lama.
        Komplikasi. Komplikasi penyakit Crohn meliputi 1) terbentuknya fistula hingga ke lengkung usus lain, kandung kemih, vagina, atau perianal, 2) Abses abdominal/ peritonitis, 3) Striktur intestinal/ obstruksi.

Penulis: dr. Atika
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment