Saturday, January 4, 2014

Tukak Duodenum

Tukak duodenum merupakan penyakit yang masih sering ditemukan, merupakan sebuah kondisi kronik, lesi soliter yang terjadi pada bagian traktur digestivus yang terkekspos dengan asam lambung, perforasi bisa saja terjadi akibat lesi ini.


Etiologi dan patogenesis. Tahun 1910 muncul sebuah pernyataan bahwa no acid peptic activity, no ulcer. Sampai saat ini pernyataan ini masih tetap relevan, walaupun beberapa etiologi lain telah diketahui yaitu H. pylori dan OAINS. Intinya adalah terdapat ketidakseimbangan antara pertahanan mukosa duodenum dengan factor agresifnya.
Infeksi H.pylori terjadi pada 70-90% penderita tukak duodenum. Bila terjadi infeksi H. pylori, maka bakteri ini akan melekat pada permukaan epitel dengan bantuan adhesin. Kemudian bakteri ini melepaskan sejumlah zat (misalnya VacA) yang menyebabkan luka pada permukaan mukosa dan menginduksi inflamasi. H. pylori juga meningkatkan sekresi asam lambung dan mengganggu produksi bikarbonat.
Risiko terjadinya tukak duodenum (dan juga lambung) juga terjadi pada pengguna OAINS. OAINS menekan sintesis prostaglandin mukosa. Inhibisi ini meningkatkan sintesis HCL dan mengurangi produksi bikarbonat serta mukus.
Faktor lain yang bisa menyebabkan terjadinya tukak misalnya merokok(mengganggu aliran darah dan penyembuhan). Kortikosteroid dalam dosis tinggi juga diketahui berpengaruh.
Tukak duodenum lebih sering pada pasien dengan sirosis alkoholik, COPD, gagal ginjal kronis, dan hiperparatiroidisme. Saat gagal ginjal dan hiperparatiroidisme mungkin sekali terjadi hiperkalsemia, yang menstimulasi produksi gastrin dan akhirnya asam lambung disekresikan.
Manifestasi klinis. Sindrom dyspepsia, nyeri epigastik, rasa terbakar. Rasa sakit biasanya meningkat saat malam dan terjadi 1-3 jam setelah makan. Manifestasi tambahan berupa nausea, muntah, kembung, dan penurunan berat badan. Umumnya rasa sakit menghilang dengan alkalis dan makanan.
Diagnosis dan diagnosis banding. Diagnosis pasti tukak duodenum dilakukan dengan endoskopi saluran cerna bagian atas, sekaligus dilakukan biopsi untuk mendeteksi H. pylori. Diagnosis bandingnya adalah dyspepsia non ulcer, tukak lambung, penyakit pankreatobilier, penyakit Crohn, dan tumor saluran cerna. 
Tatalaksana. Tatalaksana dilakukan secara medikamentosa dan perbaikan diet. Bila diketahui adanya infeksi H.pylori maka diberikan kombinasi PPI + 2 jenis antibiotic.  Bila diketahui tukak berhubungan dengan OAINS, maka hentikan OAINS/ ganti. Sedangkan bila tidak dipengaruhi keduanya, maka berikan PPI, H2 Receptor Antagonist, dan antasida.

Penulis: dr. Atika
Reaksi:

1 komentar:

  1. Sore..kk utk translate jurnal saya harus kirim jurnalnya kmn?

    ReplyDelete